xxxxweishin

“Kenapa nggak dimakan lagi?”

Nathan bertanya heran sambil menatap Alin yang kini justru menggelengkan kepalanya, ia mendorong satu cup gelato yang masih banyak ke depan Nathan yang kemudian menghela napas kecil.

“Kenyang.. buat lo aja semuanya ya.” jawabnya sambil meringis memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dasar.

Pantas saja daritadi juga cuma diicip-icip doang. Artinya sekarang di depan Nathan ada dua cup gelato dengan empat rasa berbeda.

“Kan, dibilangin tadi pesen satu aja, Alina. Udah tahu kita baru beres makan.”

“Iya maaf... kirain gue gak akan sekenyang ini, Atan.” cicitnya pelan, kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah saat wajah Nathan seakan protes, ujung-ujungnya gue juga yang ngabisin.

Namun, faktanya tanpa banyak bicara pemuda itu mengambil cup milik Alin dan memakannya dengan tenang membuat Alin mengambil napas lega dan melebarkan senyumnya.

Memang salahnya yang tadi menyeret Nathan untuk mampir ke sini setelah mereka keluar dari tempat makan dan kekeh ingin memesan sendiri-sendiri. Padahal sebelumnya Nathan sudah memberi saran. Alin yang terkadang ngeyel kalau dibilangin dan Nathan juga yang tidak mau ribut ujung-ujungnya selalu mengiyakan.

“Iya terserah deh, lin. Biar cepet.” adalah kalimat andalannya bila sudah berhadapan dengan sifat Alin yang satu itu.

Di sela makannya, pandangan Nathan sesekali mengedar ke sekeliling kedai yang cukup ramai di malam minggu seperti ini, tidak hanya banyak anak muda yang nongkrong bahkan beberapa kursi diisi keluarga membawa anak kecil yang sibuk makan belepotan di mulutnya.

“Enak nggak?”

Pertanyaan Alin membuat Nathan kembali memfokuskan dirinya pada gadis yang duduk di depannya itu. Kedua tangannya ditumpu di atas meja dengan badan yang dicondongkan ke depan, siapa pun akan tahu kalau Alin terlihat begitu antusias untuk mendengar jawaban Nathan.

Ditatapnya Alin yang setaunya jarang menggunakan kontak lensa, namun malam ini ia terlihat sedikit berbeda. Ketika iris berwana keabuan di bawah bulu mata lentik itu berbinar-binar seperti sekarang sedang mamandangnya, Nathan harus berdehem pelan untuk menghalihkan tatapannya sekilas.

Kacau. Cantik banget Alina malam ini.

Ralat, seharusnya tidak hanya malam ini saja. Karena Alin selalu terlihat cantik setiap hari, bahkan sejak mereka bertemu pertama kali beberapa tahun lalu. Saat Nathan melihat Alin yang sibuk dengan tumpukan kardus di teras rumah yang biasanya kosong.

Tangan Nathan menunjuk gelato milik Alin dengan sendoknya, “Menurut gue yang ini kayak rasa odol, tapi masih bisa dimakan. Terus yang ini lumayan enak, rasa oreo gitu.”

Alin sontak tertawa kecil mendengarnya, sebetulnya ia juga tadi hanya penasaran memilih mint choco. Tapi sepertinya ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nathan.

“Itu padahal kata Kila enak banget, makanya gue cobain.”

“Biasa aja deh. Mau nyoba yang punya gue?”

Tingkah Nathan yang tiba-tiba mengangkat sendok padanya tepat sebelum dia akan menyuap lagi membuat tawa Alin perlahan berhenti.

Nathan bergumam pelan sambil melirik tangannya yang terulur di depan wajah Alin seakan bicara lewat tatapan, buruan makan ini tangan gue pegel.

Meski sedikit ragu dan tentu saja lengkap dengan sikap malu-malu di tempat umum, Alin perlahan membuka mulutnya.

Manis.

Setelah itu, ia tidak bisa memikirkan rasa apalagi karena justru yang lebih sibuk bekerja bukan indera perasanya. Malainkan jatungnya yang berdegup tanpa bisa dikontrol.

Gue disuapin sama Atan, sudah bisa dipastikan batinnya kemudian sibuk mengoceh kesenengan.

Ekspresi Alin itu tentu saja tidak luput dari pandangan Nathan yang sejak tadi menatapnya; raut terkejutnya, rona kemerahan di pipinya bahkan hingga kini terlihat sebuah senyum salah tingkah yang menggemaskan dengan kedua sudut mata ikut menyipit.

Dan Nathan tidak bisa atau mungkin tidak berniat menyembunyikan senyum lebarnya saat melihat Alin yang ada di depannya saat ini.

Gemes banget nih anak orang.

Hanya butuh sekitar sepuluh menit kemudian Alin bertanya saat melihat Nathan sudah menghabiskan semua gelato punya mereka, “Habis ini kita langsung pulang?”

“Emang mau kemana lagi, lin?” dia melihat jam yang ada di tangan kanannya, “Udah mau jam sepuluh. Nanti gue disate sama Om Adrian kalau kita pulang lewat jam sebelas.”

Tentu saja Alin langsung mendengus dengan keasbunan Nathan. Yang benar saja emang Papaku itu tukang jagal? Main sate-satean segala!

“Iya enggak kemana-mana sih...” jawabnya.

“Yaudah kita pulang sekarang aja.”

Melihat Nathan yang sudah berdiri lalu menunggunya membuat Alin mengangguk lesu dan mengikuti langkah lebar pemuda di depannya yang berjalan keluar menuju tempat parkir.

Tubuh Nathan selalu terlihat menjulang tinggi bila Alin berjalan di belakangnya. Bahkan kata Mbak Kinan, Alin seperti diapit gapura kabupaten kalau ia berada di antara Nathan dan juga Azka.

Alin menatap punggung lebar di balik kemeja denim itu sambil sedikit menggerutu.

“Kok waktu tiba-tiba cepet banget sih! orang gue masih mau ngedate.”

Sesaat, Nathan menyadari kalau Alin berjalan pelan dan tertinggal di belakangnya membuat dia menghentikan langkah lalu berbalik. Dan benar saja, Alina dan bibirnya yang cemberut menjadi hal pertama yang bisa dilihat oleh Nathan.

Beneran jadi badmood? pikir Nathan.

Tanpa banyak bicara juga bertanya apa-apa, dia melangkah ke belakang Alin lalu memegang bahu Alin dengan kedua tangan besarnya.

Nathan mendorong tubuh Alin agar berjalan sambil menaruh dagu di atas kepala gadis itu yang jauh terlihat mungil dibandingkan ukuran tubuhnya.

“Buruan jalannya, Alina.” bisiknya pelan.

Ini adalah cara paling ampuh bagi Nathan kalau Alin sedang bersikap malas-malasan. Karena gadis itu biasanya akan menurut tanpa banyak protes.

“Iyaaaa.”

Begitu sampai di depan motornya yang terparkir, Nathan mengambil helm berwarna tosca yang terlihat kontras sekali dengan helm hitam miliknya. Ditatapnya Alin yang kini terlihat lebih baik, setidaknya bibir kecilnya itu tidak maju seperti tadi.

Tangan Nathan tanpa canggung memakaikan helm berwarna gemas itu seperti hal tersebut sudah menjadi kegiatan rutinnya. Dia juga selalu bertanya apa Alin sudah merasa nyaman atau belum, lengkap dengan memasangkan pengait di bawah dagunya, atau sesekali tangannya akan merapikan rambut Alin yang berantakan akibat memakai helm.

Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat puas melihat Alin yang sudah siap.

Namun, bukannya buru-buru memasang helm miliknya sendiri. Nathan justru merendahkan tinggi badannya hingga wajahnya bisa sejajar dengan Alin, dibalasnya tatapan penuh tanda tanya di paras cantik Alin itu dengan sebuah senyum simpul yang tampak hangat.

“Alina, kalau masih mau ngedate. Gapapa nanti gue tinggal nyamperin ke rumah aja. Kan katanya cuma lima langkah doang, hmm?”

Nathan tidak menghilangkan sedikit pun senyum di wajah tampannya saat Alin masih sibuk mencerna setiap ucapannya.

“Sekarang mending kita jalan pulang dulu aja ya.”

Demi Tuhan, Nathandra dan segala tingkahnya hari ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantung Alina.

if ever you're in my arms again this time I'll hold you forever.

Ray mungkin lupa bagaimana rupa Ezhar setelah beberapa tahun terakhir. Dalam artian, selama mereka tidak bertemu, Ray berpendapat akan ada perubahan-perubahan yang terjadi kepadanya.

Lalu tiba-tiba semesta bekerja sedikit memihak yang justru terkesan lucu, entah apa maksudnya ia pun tidak mengerti dan sibuk menebak-nebak sendiri.

Jujur, Ezhar masih terlihat sama di pandangannya yang telah lama sekali melihat dia terakhir kali, hanya saja sekarang dia lebih rapi dengan rambut berwarna hitam legam yang dipotong pendek, tidak ada lagi rambut kecoklatan panjang yang kerap kali melewati telinga.

Netra Ezhar terpaku untuk beberapa detik, menatap penuh kejut yang membulat tersirat jelas saat kedua pandangan yang sudah asing milik mereka akhirnya bertemu kembali.

Lalu terlihat dia dan senyumnya yang kemudian perlahan mengembang dari tempatnya berdiri di sudut ruangan penuh orang sibuk berlalu lalang di sekitar mereka, seakan menciptakan waktu yang seperti berhenti untuk Ray mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.

“Ray...” adalah ucapnya tanpa suara yang bisa dibaca lewat bibir yang bergerak pelan.

Raynar Dewangga.

Nama itu disebut sekali lagi secara lirih nyaris berbisik dengan nada terselip rindu.

Tanpa sadar Ray sedikit mundur kala langkah Ezhar justru mendekat tanpa ragu. Pemuda itu membawa tungkainya yang dibalut celana hitam formal lengkap dengan kemeja batik berwarna senada dan motif coklat tua yang terlihat rapi, dia melangkah menuju Ray yang berada tepat di samping stan makanan dengan tangan sibuk memegang piring kecil berisi puding coklat.

Ada sedikit sensasi gila yang menyeruak di sekitar dada Ray yang mendadak sesak namun berdebar tanpa bisa dicegah secara bersamaan, degupnya seperti semakin kencang meronta saat akhirnya Ezhar berdiri hanya berjarak beberapa jengkal dari ujung sepatu hitamnya.

Dia adalah Ezhar yang dulu Ray cintai dan Ezhar yang sangat mencintai Ray.

Ezhar pernah mengenalkannya pada arti cinta yang begitu menyenangkan juga mendebarkan semasa remaja.

Ezhar juga yang mengenalkan pada rasa bahagia penuh kupu-kupu yang akan membuatnya tersipu setiap mereka bersama.

Ezhar pendengar yang baik, dulu dia selalu mempunyai waktu untuk mendengarkannya yang suka bicara banyak hal sejak mereka duduk di bangku sekolah.

Dan dia adalah patah hati terbesar Ray saat hubungan mereka harus berakhir empat tahun lalu.

“Gimana kabarnya, Ray?”

Tentang apa? kehidupanku atau perasaanku saat ini ketika melihat kamu lagi.

“Baik.” jawaban yang Ray akhirnya beri setelah ia menelan balik pertanyaannya yang terbersit dan menimbang cukup lama.

Ray tidak akan pernah menyangka bahwa pertemuan pertama mereka setelah berpisah adalah di sebuah gedung pernikahan yang sangat ramai.

Mau diruntut bagaimana pun, ia tidak tahu kalau Ezhar juga sama-sama mengenal orang di atas pelaminan sana yang merupakan sepupu Ray dan urusannya dengan Ezhar tentu ia tidak mengerti.

Mendengar jawaban Ray, Ezhar hanya mengangguk kecil. Sorot ingin tahunya tentang mengapa mereka berdua bisa bertemu di sini juga terlihat sangat jelas, “Mas Yudis teman kantorku, Ray.” beritahunya kemudian membuat Ray sedikit paham, “Kak Intan sepupuku.” balasnya.

Kali ini Ezhar kembali tersenyum mendengar ucapan Ray, dia terkekeh kecil mengetahui kebetulan yang tiba-tiba itu. Pantas bila dilihat lebih dekat kemeja batik yang digunakan oleh Ray sama dengan beberapa orang di sini, ternyata mereka masih satu keluarga.

“Oh iya? ternyata dunia memang sempit ya.”

Ray menarik tipis kedua sudut bibirnya tanda setuju dengan ucapan Ezhar. Benar, ia mengakuinya karena bagaimana bisa hal ini terjadi.

“Kamu sendiri apa kabar, zhar?”

Ezhar menatapnya lama sebelum menjawab, dia seakan sibuk memanjakan kedua iris matanya untuk melihat setiap detail wajah Ray yang seperti lebih tirus sejak terakhir mereka bertemu. Dulu pipinya lebih berisi saat tangannya selalu mampir di sana dan membuat satu lesung pipi dalam hadir di sela tawa bahagianya yang manis.

Selain itu, Ray tampak baik-baik saja di hadapannya saat ini dan Ezhar menghela napas lega diam-diam.

“Aku baik. Jujur nggak pernah nyangka bisa ketemu kamu di sini, Ray. Untung aku datang.”

Maksudnya?

Satu kebiasaan yang sering Ezhar tampilkan adalah dia selalu menatap penuh perhatian pada setiap lawan bicaranya, dan dulu Ray sangat menyukai hal tersebut.

“Zhar, kalau sama yang lain jangan natap sambil senyum gini deh, aku takut nanti mereka pada baper.”

“Iya enggak sayang, kan sama kamu aja.”

Ray berdehem kecil, sekilas ia mengalihkan tatapan ke sembarang arah saat melihat senyum Ezhar yang masih sama, senyum yang dulu paling ia sukai dari mantan kekasihnya itu.

Pandangan Ray justru bertemu dengan Rhea, sang adik yang sedang digandeng—paksa oleh Mama dan sibuk bicara dengan kerabat dalam rangka mencarikannya jodoh.

Dia menatap sambil menunjuk-nunjuk punggung Ezhar dari belakang. Tentu saja Rhea sangat tahu siapa orang di depannya saat ini dan sudah bisa ditebak akan bagaimana nanti dia bertanya ini-itu tentang Ezhar yang tiba-tiba muncul lagi setelah empat tahun.

Jujur ia pun tidak tahu.

Ray memang tidak pernah berhubungan lagi dengan Ezhar saat semuanya telah selesai diantara mereka.

Dalam empat tahun terakhir, segala kontak tentang Ezhar pun seperti menghilang darinya begitu saja, terlebih hidup di dua kota berbeda membuat semakin kecil kemungkinan untuk mereka bertemu.

Jangan tanya butuh berapa lama bagi Ray melupakannya karena hal itu tentu sudah jelas tidak mudah. Ezhar dan segala kenangannya yang mengisi masa remaja Ray seperti mempunyai tempat tersendiri di sudut hatinya yang sulit sekali dilupakan begitu saja.

Dan sekarang, dengan tidak memberikan aba-aba apa pun dia justru hadir kembali tepat di depannya.

Tadi sebelum Ezhar melihatnya, Ray yang lebih dulu memfokuskan pandangan saat dari belakang ia bisa melihat siluet familiar di antara orang yang berdatangan.

Ezhar yang sedang sibuk berbicara dengan kedua temannya bisa terlihat secara jelas ketika Ray sengaja berjalan ke arah berlawanan untuk memastikan bahwa yang ada di tempat ini dengannya adalah Ezhar Bachtiar, mantan kekasihnya sejak SMA.

Lagi, Ray katakan semesta sedang melucu padahal ia yang paling tahu bagaimana usahanya untuk melupakan Ezhar selama ini.

“Kamu di Bandung terus?”

Harusnya, Ray yang bertanya dengan lantang padanya.

Kenapa kamu ada di Bandung, zhar? sejak kapan?

Ray menaruh piring kecil di tangannya ke atas meja begitu saja, puding coklatnya belum habis saat tiba-tiba rasa manisnya terasa pahit di tenggorokan, padahal tadi enak-enak saja.

“Sekarang iya, habis lulus aku sempat kerja di Bogor tapi nggak lama.”

“Aku juga sudah tinggal di Bandung lagi.” Ezhar berucap sedikit keras saat suasana di sekitar mereka menjadi bising karena musik serta lagu yang mengalun cukup kencang.

Dia memilih melangkah ke samping Ray hingga membuat mereka kini bersisian, dan tubuh Ray tanpa diperintah langsung bergeser untuk memberinya ruang.

“Sejak kapan?” suara Ray sedikit tercekat, ia bertanya dan menatap kedua iris Ezhar penuh rasa ingin tahu.

“Baru beberapa bulan lalu. Aku juga kerja di sini sekarang... dan rasanya seperti kembali pulang, Ray.”

Ray hanya bisa terdiam mendapati kabar yang mungkin tidak pernah terlintas akan diketahuinya secara langsung seperti ini, pantas saja Ezhar bilang dia teman sekantor Mas Yudis.

Ezhar sudah kembali.

Lalu apakah mungkin hubungan mereka juga bisa seperti dulu lagi?

Dalam hampir tiga tahun hubungan yang terjalin, dua tahunnya Ray melepaskan Ezhar yang harus kuliah di Malang dan tinggal bersama kakaknya.

Sebelum berpacaran, keduanya sudah berteman dekat karena selalu berada di satu kelas yang sama sejak kelas sepuluh. Hingga ketika kelas dua belas, Ezhar menyatakan perasaan padanya tepat sepulang sekolah di dalam kelas yang hanya berisi sebagian orang yang belum pulang.

Ray tidak bodoh untuk membaca setiap perhatian Ezhar padanya selama mereka berteman dan saat waktunya tiba, ia dengan senang hati menjawab iya penuh yakin.

Bersama Ezhar, tahun terakhir masa putih abu-abu Ray penuh dengan banyak kenangan manis yang hanya terjadi satu kali dalam hidupnya.

Ezhar dan kisah mereka berdua mengisi penuh cerita masa remaja Raynar yang indah.

Satu tahun menjalani hubungan jarak jauh memang tidak mudah, Ray di Bandung dan Ezhar di Malang serta keduanya sama-sama mulai sibuk saat menjadi mahasiswa baru.

Tetapi, hal itu masih bisa diatasi dengan banyak pengertian dari masing-masing yang tidak ingin sengaja membuat-buat masalah.

“Aku kangen banget sama kamu, Ray.”

“Ezhar, kalau udah pulang kasih tahu dong, aku mau telpon yang lama.”

“Aku ngerti kita sama-sama sibuk. Tapi nanti lagi kabarin dulu ya, sayang.”

Di liburan semester pertama, Ray ingat menjemput Ezhar di stasiun saat dia akhirnya pulang ke Bandung. Ia dipeluk erat sekali oleh Ezhar yang berkali-kali mengucap rindu.

Selalu seperti itu, karena jarak yang jauh pertemuan mereka pun sangat terbatas sekali, mereka hanya bertemu kalau Ezhar sedang pulang ke Bandung, beruntung masa liburan bisa sampai dua bulan dan memberi waktu banyak untuk keduanya mengganti waktu yang hilang.

Sayangnya, hal tersebut tidak bertahan lama. Memasuki dua tahun hubungan jarak jauh mereka justru ada lebih banyak salah paham serta hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya lewat telpon saja.

“Aku capek kita kayak gini terus, paham gak sih, zhar.”

Dan Ezhar bukannya tidak berusaha mempertahankan hubungannya, tetapi melihat Ray yang seperti sudah menyerah pada mereka malah membuatnya ikut memilih mundur walaupun sulit.

“Sebanyak apa pun aku minta, kalau kamunya sudah nggak mau kita lanjut. Aku gak bisa ngubah apa-apa kan, Ray?”

Ray tidak bisa tanpa Ezhar, tetapi dengan Ezhar yang tidak di sampingnya jauh lebih menyakitkan karena hubungan mereka tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

Empat tahun lalu, hubungan mereka berakhir tanpa banyak drama. Kata Rhea, mereka berdua tidak ada yang salah hanya saja mungkin keadaan yang memang tidak memihak seutuhnya karena tidak semua orang bisa menjalani hubungan jarak jauh.

“Jadi, kalian putusnya baik-baik?”

Ezhar hanya bisa tersenyum tipis bila orang-orang bertanya seperti itu padanya.

Mungkin, bisiknya dalam hati.

Karena tidak pernah sedikit pun Ezhar melepas Raynar dengan rasa amarah kepadanya.

Dia justru merasa bersalah, karenanya Ray harus melalui hubungan yang tidak selalu seindah yang dia janjikan sejak mereka di bangku sekolah dulu.

Empat tahun berpisah pasti telah terjadi banyak sekali cerita panjang yang dilalui. Seperti halnya Ray yang pernah berpacaran dengan teman kuliahnya saat di tingkat akhir, namun hubungan mereka rupanya tidak berhasil dan hanya bertahan sebentar.

Atau Ezhar yang mungkin belum kembali berniat membuka hatinya untuk orang lain walaupun banyak yang datang di sepanjang garis waktu tersebut.

Ray yang sekarang di sampingnya bukan lagi usia belasan seperti saat mereka berada di kelas yang sama menggunakan seragam putih abu-abu atau usia dua puluh saat mereka terakhir bertemu di liburan semester saat Ezhar pulang ke Bandung kala itu.

Ezhar memanggilnya dengan lembut membuat Ray yang kini berusia dua puluh empat tahun itu menatapnya menunggu kalimat apa selanjutnya yang akan dikatakan oleh Ezhar.

Dia menghela napas panjang sejenak, menahan rindu yang sudah menumpuk sejak tanpa sengaja tadi kedua netranya menemukan sosok Ray yang sedang menatapnya lebih dulu.

“Kalau aku bilang kangen, kamu percaya nggak, Ray?”

Ezhar ingin memeluknya, dia tidak pernah mengusik hidup Ray sejak hubungan mereka berakhir, dia mencoba mati-matian merelakan Raynar yang memang tidak ingin bersamanya lagi.

Sejak kepulangannya kembali ke Bandung lima bulan lalu pun, bukannya Ezhar tidak berniat bertemu, namun dia sadar diri kalau hubungan mereka sudah berakhir maka pertemanan yang dibangun jauh sebelumnya pun ikut pudar.

Miris, tapi kenyataannya memang seperti itu. Ezhar harus rela kehilangan pacar sekaligus teman baiknya.

“Dulu kan lo sama Ray deket banget, zhar. Bahkan sebelum pacaran dan jadi mantanan.”

Tempo hari dia bertemu dengan teman-teman semasa SMA nya dan nama Ray disebut tanpa bisa dicegah, karena dulu bila ada Ezhar maka selalu ada Ray yang akan bersamanya.

Kini, kedua mata Ray lengkap dengan ekspresi wajahnya terlihat terkejut saat mendengar ucapan Ezhar yang terlihat tanpa ragu.

Mengenal Ezhar bertahun-tahun membuat Ray paham mana yang sungguh-sungguh dan mana raut jahil yang kadang dia tampilkan di depannya. Dan Ray harus menelan ludahnya sendiri saat detik ini ia sadar kalau tidak ada raut jahil yang ditampilkan Ezhar sedikit pun.

Tandanya ucapan Ezhar sungguh-sungguh saat dia mengatakan kalau merindukannya.

“Percaya.” jawabnya pelan, karena tidak ada alasan bagi Ray untuk menyangkal apa yang ia lihat dan dengar langsung sekarang.

Ray tahu, ada rindu yang tersirat dalam setiap garak iris hitam yang menatap penuh perhatian kepada dirinya sejak pandangan mereka bertemu.

Jawaban Ray mungkin tidak terlalu terdengar jelas di pendengaran Ezhar karena suasana di dalam gedung yang bising, tapi dia justru tersenyum begitu lebar.

Bahunya terasa lebih ringan saat Ray membalas senyumnya walau tipis dan membuat lesung pipinya terlihat samar.

Ezhar mundur untuk bersandar pada tembok yang ada di belakang mereka, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana lalu pandangannya mengedar mencari rekan kerjanya yang tadi datang bersama.

“Aku kayaknya ditinggalin, deh. Temanku pada hilang, Ray.” ucapnya saat Ray mendekat dan melakukan hal yang sama, namun ia memilih melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kelamaan tinggal di Malang gak akan bikin kamu lupa jalan dan nyasar pas pulang sendiri kan, zhar?”

Ezhar berhasil tertawa mendengar balasan Ray, ah rindu sekali rupanya dia berbicara dengan Ray seperti dulu.

Tidak lama satu tangannya dikeluarkan dari saku dan melambai pada Rhea yang sedang menatap mereka berdua dari tempat duduk.

“Rhea ngeliatin kita terus. Takut kamu kenapa-napa atau diapa-apain sama aku, mungkin? Aku kayaknya harus menghadap dia dulu kalau gini.”

Ray meringis, ia menatap Rhea dan memberinya sinyal agar mengontrol raut wajahnya yang ditekuk, kontras sekali dengan penampilan anggunnya yang menggunakan setelan kebaya berwana sage, rambut hitam panjangnya digelung sedemikian rupa hingga dia terlihat begitu cantik.

Alasannya jelas bukan karena kamu, Ezhar.

Ray tahu betul kalau adik kembarnya itu mulai jengah dengan Mama yang sibuk mencarikannya jodoh dan dia sedang meminta tolong untuk diajak kabur dari sana secepat mungkin.

Rhea dan Ezhar memang saling kenal walapun mereka dulu tidak satu kelas, lagi pula satu sekolah juga tahu siapa Rhea yang merupakan wakil ketua osis di angkatan mereka.

Jam di pergelangan tangan Ezhar sudah menunjukan pukul satu siang, bertemu lagi dengan Ray ternyata membuat waktu tanpa terasa cepat berlalu, padahal tadi dia datang hanya untuk menghormati Mas Yudis yang sudah mengundangnya di kantor dari jauh-jauh hari.

Ezhar memasukan ponselnya setelah membalas pesan kedua rekan kerjanya yang memberi tahu bahwa memang pulang lebih dulu saat melihat Ezhar tadi sibuk dengan Ray.

Ditatapnya Ray yang kini sedang bicara bersama Rhea dan beberapa orang keluarganya untuk pamit pulang lebih dulu. Tangan Rhea terlihat mengapit lengan Ray saat berjalan ke arahnya karena dia menggunakan sepatu berhak tinggi.

Tadi Ezhar juga sudah menyapa Rhea bonus bertemu dengan Mama mereka yang ternyata masih mengingatnya.

Kalau diingat saat sekolah dulu si kembar itu memang jarang terlihat bersama. Rhea yang aktif organisasi terbilang menjadi anak populer, berbeda dengan Ray yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur di perpustakaan.

“Males, kalau sama Rhea banyak nyapa orang, temennya gak keitung. Mending aku diem di perpus sepi dan biar kayak anak pinter.”

“Iya di perpus sih tapi bukannya belajar, kamu malah numpang tidur sampai ditegur yang jaga, Raynar sayang.”

Ray hanya akan tertawa mendengarnya, memang entah sudah berapa puluh kali ia mendapat tatapan tajam dari penjaga perpustakaan sekolah mereka, tapi Ezhar juga tidak pernah absen menemaninya sambil membawa setumpuk buku yang akan dia baca dalam diam di sampingnya yang tertidur.

Saat sampai di depannya, Ezhar hanya bisa menurut ketika lengannya disambar oleh Rhea yang terburu-buru dan membuat keduanya mengapit gadis itu yang berada di tengah-tengah, mereka berjalan keluar gedung menuju parkiran.

“Ayo pulang, capek banget aku dijodohin mulu, padahal umur 24 tahun tuh emang baru mulai hidup iyakan?”

“Iya, sabar Rhe. Mama emang ngebet banget punya cucu kali.”

“Kalau udah waktunya juga nanti aku kasih banyak, Ray.”

Mendengar obrolan kedua saudara itu hanya bisa membuat Ezhar menggeleng pelan dengan senyum yang tidak bisa ditahan, ada cukup banyak kenangan yang terlintas tentang cerita masa remaja mereka dulu.

Kalau ditanya siapa yang paling tahu tentang hubungan Ezhar dan Ray, jawabannya tentu Rhea. Adik perempuan beda lima menit dengan Ray itu bahkan sudah mendengar tentang Ezhar sejak mereka baru masuk SMA.

“Gapapa sama Ezhar, dia baik suka ngasih pajak kalau mau ngapelin kamu, lumayan aku dapat jajan gratis.”

“Itu karena kamunya galak, Rhe. Dia nyogok.”

Dan saat hubungan keduanya berakhir, Rhea yang paling tahu bagaimana Ray menjalani life after breakup yang terasa sangat kosong, berkali-kali dia juga mendapati Ray hanya termenung di dalam kamarnya tanpa melalukan hal apa pun.

Sekarang, gadis itu menghela napas dalam, sudut matanya melirik ke arah Ezhar yang berjalan di sebelah kirinya. Rhea yakin, kahadiran tiba-tiba Ezhar tentu saja bisa membuat perasaan Ray gusar walaupun kakaknya itu mencoba terlihat biasa saja.

Sejujurnya dia juga tidak mau terlalu jauh ikut campur tentang hubungan Ray, tetapi sebagai adik, Rhea bisa menilai kalau cinta Ray pada Ezhar seperti jauh lebih dalam daripada saat Ray berpacaran dengan mantanya yang terakhir.

Dan mungkin masih ada, batinnya.

Perihal pertemuan kembali ini pertanda baik atau buruk, Rhea tentu saja tidak tahu. Dia hanya berharap kalau misal kehadiran Ezhar bisa membuat Ray jauh lebih bahagia lagi, dia akan kembali mendukung mereka seperti dulu yang selalu dilakukannya.

“Zhar, serius kamu gapapa nganterin kita pulang?”

“Gapapa, Rhe. Kan aku yang nawarin. Aku masih ingat kok jalan ke rumah kalian dan gak akan nyasar.” jawaban Ezhar membuat Ray menatapnya lalu pemuda itu sedikit mendengus saat Ezhar ternyata menyambung obrolan mereka tadi di dalam.

Ezhar hanya tertawa kecil hingga dia membukakan pintu mobilnya untuk Rhea yang lebih dulu memilih duduk di belakang dan membuat Ray harus duduk di depan.

Perjalanan pulang setelah empat tahun tidak bertemu itu nyatanya tidak terlalu canggung saat untungnya ada Rhea si paling mengerti apa yang terjadi kepada kakak dan juga temannya.

Ray justru lebih banyak diam sekarang, ia hanya menatap ke luar jendela mobil Ezhar yang membelah jalanan kota Bandung di siang yang cukup terik.

Hubungan mereka memang bisa dibilang tidak terlalu buruk-buruk amat, dan juga sebelum memutuskan untuk pacaran keduanya telah berteman lebih lama.

Mungkin karena semesta yang terlalu tiba-tiba saja dalam bekerja hingga membuatnya terasa sedikit ambigu.

“Ray...”

Ezhar menahan lengan Ray yang akan membuka pintu setelah dia menghentikan mobil hitamnya tepat di depan pagar rumah Ray yang dulu selalu dia datangi.

“Aku masuk duluan, makasih ya zhar.” Rhea berucap cepat sambil keluar saat dia membaca situasi, tangan lentiknya yang dihiasi kutek berwarna nude mengetuk kaca jendela di samping Ezhar hingga dia menurunkannya, “Jangan bikin Ray nangis.” katanya pelan dengan nada serius membuat Ezhar tersenyum lembut membalas ucapannya.

“Aku cuma mau bicara sebentar sama kakak kamu, Rhe.”

Di luar sana ada banyak orang yang memilih untuk tidak mengenal lagi mantan kekasih yang pernah dicintainya sepenuh hati. Berbagai hal yang mendasari putusnya hubungan mereka bisa menjadi alasan paling kuat dalam memutuskan perilaku tersebut.

Namun, ada juga yang mungkin masih menjalin hubungan yang tidak terlalu buruk dan masih bisa bertemu dalam beberapa kesempatan yang terjadi, definisi melepaskan dan merelakan apa yang memang bukan untuknya.

“Kalau jodoh kan gak akan kemana, zhar. Terus kalau ada jalannya mungkin nanti kalian bakal dikasih kesempatan lagi.”

Ezhar ingat perkataan kakaknya kala itu saat dia bilang kalau hubungannya dengan Ray sudah putus.

Life after breakup yang dilaluinya banyak dia alihkan dengan kesibukan kegiatan organisasi yang kadang dinilai terlalu banyak oleh sang kakak. Tapi, Ezhar seakan bebal, dia hanya akan menjawab seadanya dan berjanji tidak akan mengganggu nilai kuliahnya.

Karena kalau hanya diam saja, pikirannya akan semakin penuh dengan sosok Raynar.

Empat tahun bukan waktu yang sebentar tentu saja, berpisah lalu kembali bertemu seperti sekarang membuat Ezhar dari tadi berpikir panjang.

Masih bisa kah?

Pemuda dua puluh empat tahun itu juga tidak mengesampingkan kemungkinan kalau saat ini Ray mungkin sudah bersama yang lain dan dia tidak mempunyai kesempatan lagi.

Tetapi Rhea bak ibu peri pembawa pesan di kesempatan saat tadi berdua dengannya dengan jelas dia mengatakan bahwa Ray sedang tidak dekat dengan siapa pun.

“Ray, kalau aku minta kita mulai berteman lagi, apa kamu mau?”

Ezhar bisa melihat wajah Ray yang kembali terkejut mendengar ucapannya, dia bertanya dengan hati-hati dan tidak akan memaksa kalau Ray memang tidak ingin. Walaupun nanti hatinya pasti akan kembali merasakan kecewa yang cukup dalam.

“Maaf kalau misal permintaanku terlalu berat buat kamu.”

Ezhar melanjutkan saat Ray masih terdiam dengan raut wajah tidak mengerti, di pikiran Ray saat ini sedang penuh sekali, kahadiran tiba-tiba Ezhar juga hal yang terjadi setelahnya membuat ia harus mencerna pelan-pelan.

Senyum Ezhar kali ini tampak diulas tipis namun berbanding terbalik dengan tatapannya yang serius, dia mengambil napas dalam terlihat ragu menimbang ucapannya yang akan dikatakan,

“Kalau boleh jujur, aku masih belum bisa lupain kamu, Ray.”

Punggungnya bersandar pada kursi lalu mengusap wajah dengan tangan kanan hingga merusak tatanan rambut bagian depannya yang tadi disisir rapi, ada tawa pelan yang justru terdengar miris di setiap helanya.

“Aku kangen banget sama kamu. Rasanya aku mau peluk kamu. Aku ingin bilang sebanyak mungkin sama kamu kalau aku masih sayang sama kamu, Ray.”

Nadanya kali ini jelas lebih lemah dan lirih, bercampur frustasi yang sudah menumpuk bertahun-tahun saat akhirnya Ray kini berada nyata tepat di depan matanya.

Ezhar menatapnya dengan tatapan yang justru terasa begitu menyesakkan bagi Ray, hatinya tiba-tiba terasa sakit seperti diremas kuat. Ray seperti kembali pada empat tahun lalu ketika ia melihat tatapan Ezhar di hari mereka memutuskan untuk selesai.

Ray memilih mengalihkan tatapannya saat suara Ezhar kembali terdengar penuh sesal. Ia hanya bisa menunduk menatap kedua jemarinya yang saling bertautan di atas paha, mengigit bibirnya yang menahan perasaan penuh kalut.

“Maafin aku, Ray. Maaf hubungan kita dulu harus berakhir dan aku buat kamu nangis.”

Kalau memang betul dulu keadaanlah yang menjadi alasan utama mereka harus berpisah, maka saat keadaan itu sudah bisa diatasi lagi, apakah mungkin semuanya bisa kembali semudah ini?

“Ezhar...” suara Ray terdengar serak nyaris berbisik, kini ia membalas tatapannya setelah beberapa saat terdiam menyisakan hening yang justru berisik di pikiran keduanya.

Di dalam mobil yang sudah dimatikan itu, Ezhar merasa udara seperti mencekiknya terlebih saat kedua mata Ray kini tampak berkaca-kaca menatapnya.

Tolong jangan menangis lagi karenaku, sayang.

Di sana ada luka yang nampak, ada sesal yang terlintas, juga ada rindu yang sama besarnya.

Ezhar memilih mendekat mengikuti kata hatinya, mengabaikan logika yang berkata bahwa dia tidak berhak merindukan Raynar yang sudah bukan siapa-siapanya lagi.

Ezhar membawa Ray ke dalam pelukan panjang sembari memejamkan matanya erat. Mendekap sebisanya untuk menyalurkan rindu pada Ray yang tidak menolak.

“Aku kangen banget sama kamu, Ray.”

Sebaris kelimat rindu yang sudah tiga kali di dengar oleh Ray hari ini diucapkan dengan sungguh-sungguh dari bibir Ezhar yang masih belum melepaskan pelukannya.

Ray menaruh dagunya di atas pundak Ezhar, ia mengusap ujung matanya yang sudah basah. Diremasnya kemeja Ezhar tepat di punggung yang tampak terkulai lelah itu, “Maaf..” bisiknya teramat pelan, suara Ray kembali tercekat di tenggorokan saat ia berusaha melanjutkan kalimatnya, “..maaf aku dulu memilih menyerah tentang kita, zhar.”

Ezhar kini menggeleng pelan sambil mengeratkan pelukannya tanpa bicara apa pun, diusapnya penuh sayang kepala Raynar, bahunya, punggungnya, seluruhnya yang berada di dalam dekapannya yang semakin erat namun begitu melegakan.

Rasanya mereka seperti pulang kembali ke rumah yang paling nyaman.

Kalau memang cara semesta bekerja sudah seperti saat ini, baik Ezhar maupun Ray tidak akan pernah bisa menolak pertemuan yang diharuskan terjadi lagi.

Dan kalau memang sudah garisnya dengan Ezhar, mau sejauh apa pun Ray pergi, jalan yang dilaluinya pasti akan menuntun ia kembali menuju tempat pulang yang seharusnya.

Adalah Ezhar yang selalu mencintainya sejak dulu.

Adalah Ezhar yang selalu menunggunya untuk mengajak kembali pulang dalam hubungan yang mereka ciptakan sejak bertahun-tahun lalu.

Adalah Ezhar yang akan mengajaknya mengulang kembali kisah bahagia yang telah lalu, juga menciptakan mimpi masa depan yang akan jauh lebih indah penuh dengan senyum bahagia di wajah Raynar.

“Pernah kepikiran balikan sama mantan nggak, zhar?”

Ezhar tertawa kecil mendengar pertanyaan dari teman kampusnya saat itu, dia mengangkat bahunya dengan ringan sambil membayangkan wajah Ray.

“Kenapa enggak? dari dulu hati gue juga cuma buat Ray.”

Acara tv di depannya tampak tidak menarik minat Kafka, pemuda itu hanya memencet asal remot yang ada di tangannya lalu memilih serial kartun yang kemudian juga tidak ditontonmya sama sekali karena ia fokus kembali kepada ponsel ditangannya.

Arsen benar-benar tidak membalas chatnya bahkan sampai malam seperti ini. Bukannya membujuk atau apa pun, dia malah menuruti ucapan Kafka.

“Emang dasar Sensen gak perduli sama aku!” kakinya menghentak kesal berkali-kali sambil menatap chat mereka tadi sore, “Aku beneran mau move on, besok harus lupain Mas Arsen! Rasain aja nanti kalau kamu suka sama aku tapi aku nya udah lupa.”

Tingkahnya yang misuh-misuh sendiri jelas membuat Lintang yang berjalan ke arahnya hanya bisa menggeleng pelan. Kafka Rashif Mahendra si bungsu keluarga Mahendra itu dan kelakuannya kalau menyangkut Arsen memang terkadang sedikit berlebihan. Lintang sendiri sudah khatam dan dia tidak bisa berbuat banyak, sesekali mungkin akan meledeknya sekaligus membantu walaupun dia tidak tahu.

“Dek, kamu jaga rumah. Mas mau keluar.”

“Kemana?” ia yang tiduran di atas sofa itu manatap kakaknya ingin tahu, lagi galau gini ini kok malah ditinggal sendiri sih.

“Ketemu temen. Papa sama Mamah juga paling udah di jalan pulang.” Lintang mengambil kunci motor yang ada di atas meja dekat tv lalu berbalik melihat adiknya yang hanya mengiyakan, “Awas kalau ngomong aneh-aneh sama Papa soal ngekost. Nanti diomelin beneran terus Mas bakal kabur aja gak akan bantuin kamu.”

“Iya lagian aku gak beneran juga.”

Lintang tahu kalau ucapan Kafka hanya ocehan semata, lagi pula ngapain ngekost kalau ke kampus tidak sampai tiga puluh menit kok. Dasar ada-ada saja.

“Mas pergi dulu pulang maleman bilangin ke yang lain.”

Tangannya dengan cepat mengacak rambut Kafka sebelum beranjak dari ruang keluarga sambil tertawa kecil mendengar protes darinya, “Bawain jajan pulangnya, Mas!” seruan Kafka itu hanya dibalas acungan jempol olehnya hingga kemudian terdengar suara motor yang meninggalkan rumah.

Bosan karena tidak ada yang dapat diajak bicara, Kafka melihat ponselnya lagi. Di layar yang terkunci itu sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas dan benar-benar tidak ada satu pun pesan masuk dari Arsen membuat bibirnya semakin melengkung ke bawah dengan wajah ditekuk.

Jarinya bergulir membuka galeri yang menampilkan foto-foto mereka berdua atau pun foto Arsen yang diambilnya diam-diam kalau mereka sedang bersama, senyumnya perlahan terlihat mengubah cepat lengkung masam di wajahnya. Kafka bahkan memperbesar foto Arsen yang ia ambil di cafe tempo hari hingga memenuhi layar ponselnya.

“Ganteng banget My Sensen.” pujinya tanpa segan.

Katanya mau move on.

Sial! Ia mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri saat tersadar, kebiasaan ini memang tidak mudah untuk dihilangkan hanya karena modal niat saja. Lagi pula niat move on nya kan mulai besok, Kafka meringis saat hati dan pikirannya tidak sinkron.

Tapi, melupakan Arsen dari hidupnya? mendingan mimpi saja! Bian bahkan akan lebih percaya kalau dinosaurs hidup lagi daripada fakta kalau Kafka move on.

Digantinya lagi channel tv di depannya yang terlihat makin membosankan setelah ia menyimpan ponselnya asal di atas sofa, sepertinya mau acara apa pun itu tidak akan menarik saat isi pikirannya penuh oleh pemuda yang tinggal di sebrang rumah.

“Kenapa Mas? ada yang ketinggalan?” Kafka bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari tv saat mendengar pintu rumah yang dibuka, sepertinya belum ada sepuluh menit dari Lintang pergi.

Ia yang sedang tiduran di atas sofa itu mengerut bingung ketika tiba-tiba sebuah kantong makanan terlulur dari belakang menghalangi pandangannya, dan “Hai.” satu sapaan singkat dari suara berat yang sangat dikenalnya berhasil membuat Kafka menengadah.

Ada Arsen yang mengulas senyum di atasnya.

Bohong kalau Arsen tidak bisa melihat iris mata Kafka yang membulat saat menyadari kahadirannya. Anak itu terpaku beberapa saat hingga kemudian mengerjap ketika Arsen menyentuh ujung hidungnya.

“Ngedip dulu, Kafka.”

“Sensennnnnn!”

Bodoh! Kan ceritanya lagi ngambek, kenapa masih sempat-sempatnya terpaku saat melihat Arsen yang dipikirkannya sejak tadi kini ada di depan mata.

Arsen tertawa sekilas mendengar nada kesal dari Kafka itu, ia berjalan memutari sofa untuk duduk di sampingnya yang sudah bangun dari posisi tiduran.

Saat Arsen menghempaskan tubuh di samping kanannya, Kafka bisa mencium harum sabun mandi familiar yang selalu digunakan oleh Arsen. Dan bila dilihat memang sepertinya Arsen baru mandi karena tampilannya cukup segar dengan rambut sedikit basah.

Mungkin baru pulang kerja.

Kantong makanan tadi kembali terulur di depan Kafka, “Cake kesukaan kamu sama ada es krim juga.” Arsen menghela napas kecil saat Kafka yang sepertinya masih ngambek itu enggan mengambilnya dan hanya meliriknya saja.

“Oh gitu, ya sudah buat Lintang saja nanti.”

Bibir Kafka kembali melengkung ke bawah mendengar ucapan Arsen, enak saja biarin Mas Lintang beli sendiri.

Kini ia coba mengambil kantong itu dari tangan Arsen yang justru menjauhkan dan memindahkannya ke tangan yang lain sambil menaikan satu alis, “Bukannya gak mau?” tanyanya.

Tidak menjawab, Kafka lalu mendekat dan kembali mencoba meraihnya tanpa beranjak dari duduk. Sedangkan Arsen malah semakin mengulurkan tangannya menjauh dari jangkauan Kafka.

“Sensen, aku mau es krim.” ucapan Kafka sambil mencoba meraih tangannya susah payah itu membuat Arsen menarik kedua sudut bibirnya lalu terkekeh kecil karena perlahan raut datar Kafka sudah menghilang.

“Mas Arsen!” Kafka mengerang kecil sedikit kesal namun diselingi tawa saat Arsen masih tidak mengalah memberikan kantong itu padanya, jarang sekali Arsen bersikap jahil seperti Lintang.

Suara Kafka yang sibuk ingin merebut dari tangannya itu menutup suara dari tv yang memenuhi kediamannya, “Aku kira kamu nggak mau, kaf.”

“Mau, Mas Arsennnnn!”

Diliriknya wajah Arsen saat daritadi ia fokus pada tangan pemuda itu yang terangkat menjauh darinya.

Rasanya dunia Kafka sempat terhenti sesaat ketika ia menyadari betapa dekatnya posisi mereka saat ini. Sisa tawa di bibirnya perlahan menghilang. Kafka baru menyadari satu tangannya yang tidak sedang meraih lengan Arsen sudah berada di bahu pemuda itu.

Dan juga sejak kapan tangan kiri Arsen menahan pinggangnya yang sibuk bergerak agar tidak jatuh, ia bahkan sedikit meremas piyama Kafka.

Tanpa sadar, Kafka menelan ludahnya sendiri saat kedua netranya menatap Arsen yang juga melihatnya.

Ia mungkin sudah terbiasa melihat wajah Arsen selama sepuluh tahun, tapi Kafka tidak akan menampik kalau dalam jarak sedekat ini, Arsen bisa jauh lebih tampan.

Sensen, kalau begini mana bisa aku move on dari kamu! pikirannya berisik sekaligus heboh sendiri.

Melihat wajah Kafka yang berada tepat di depannya membuat Arsen mengalah, ia menuruhkan tangannya dan memberikan kantong makanan itu pada Kafka yang menerimanya lalu buru-buru membenarkan duduknya.

Tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya, Kafka juga berpikir cake dari kafe kakaknya Bian di jam segini memang masih ada ya?

Arsen yang seperti mengerti tatapan Kafka menjawab sambil menyandarkan tubuh di sandaran sofa empuk berwarna abu itu, “Tadi sore aku chat kakaknya Bian, suruh pisahin dulu buat diambil pulang kerja.”

Bian nya tahu nggak ya? kenapa anak itu tidak bilang apa-apa padahal sejak tadi dia tahu kalau Kafka sedang galau karena Arsen.

“Oh, makasih Mas Arsen.”

Kafka tentu harus menarik ucapanya kalau Arsen tidak perduli. Faktanya Arsen selalu ingat hal apa yang disukainya, Arsen juga selalu baik dan penuh perhatian, dan Arsen akan menjadi orang pertama selain keluarganya yang paling perduli pada Kafka, sejak dulu.

Telapak tangan Arsen tiba-tiba menengadah padanya, “Apa?”

“Strawberry yang kamu tanam. Mana katanya aku mau dikasih kan?”

“Ada! bentar.” ia menggeleng saat Kafka menjawab penuh semangat dengan senyum lebarnya lalu berlari kecil ke arah dapur sebelum kembali dengan mangkuk kecil berisi tiga buah strawberry berwarna merah.

Arsen memang tahu dulu saat Kafka menanamnya di halaman belakang karena tentu saja saat ia sedang ada di rumah ini dan bahkan membantunya.

“Ini buat Mas Arsen karena udah bantuin nanam.”

“Makasih, Kafka.”

Sepertinya Arsen memang salah saat tadi menanggapi chat Kafka, ia tidak berpikir seperti itu. Arsen justru berpikir kalau lebih baik buat Kafka saja semua karena Arsen tahu dia sangat menyukainya. Namun, Kafka malah menganggap berbeda maksudnya hingga dia ngambek.

Kafka yang kini sedang memakan es krim nya melirik diam-diam pada Arsen yang menonton tv di depan mereka setelah memakan strawberry darinya. Walaupun hanya menggunakan kaos putih dan celana pendek Arsen selalu terlihat tampan dan keren di matanya. Jangankan baru mandi, masih ngantuk bangun tidur pun menurutnya Arsen tetap tampan.

“Mas Arsen emang baru pulang ya?”

“Iya, habis makan terus mandi aku langsung kesini.”

Info penting banget sepertinya karena Kafka sekarang harus menahan senyum lagi, segitunya ya Sensen gak mau aku ngambek lama-lama? pikirnya.

Dipeluknya bantal sofa yang ada di belakangnya, Arsen terlihat semakin nyaman bersandar di samping Kafka yang sibuk makan. Ah, rumah ini juga tumben sepi sekali. Arsen tahu kalau Kafka sedang sendirian saat tadi bertemu dengan Lintang yang akan pergi.

“Kafka..”

Kafka menjawab pelan, ia yang baru menghabiskan es krimnya menatap Arsen yang menahan senyumnya sambil mengulurkan tangan dan mengusap cepat sudut bibir Kafka menggunakan jarinya.

Oke, ini bukan yang pertama kali Arsen bersikap perhatian karena lagi-lagi sejak ia kecil Arsen memang tipikal orang yang berlaku lembut padanya. Tapi, tetap saja hal itu selalu membuat Kafka tidak bisa menahan degup jantungnya yang bekerja beberapa kali lipat.

“Kamu tadi nggak nangis beneran, kan?” Kafka meringis mendengar pertanyaan Arsen, tentu saja tidak!

Tetapi ia hanya mengangkat bahunya tidak ingin menjawab. Kafka ikut bersandar pada sofa, cake yang dibawa oleh Arsen tadi dibiarkan dulu di atas meja belum ingin dimakan.

“Kalau aku nangis gimana, Mas?” tanyanya tanpa menatap Arsen, ia justru menatap layar tv di depan alih-alih membalas tatapan Arsen.

“Maaf.” Arsen menjawab, “Maaf kalau aku sering bikin kamu kesal.”

Sebetulnya Kafka sadar tentang apa yang selalu dilakukannya kepada Arsen, urat malunya bahkan seperti sudah putus kalau itu untuk mencari perhatian pemuda di sampingnya ini.

Harusnya, mungkin Arsen yang kesal dengan segala sikapnya yang ngeyel dan ngotot untuk menunjukan perasaannya. Tapi, Arsen itu tidak pernah sekalipun marah atau membentaknya.

Arsen mungkin lebih banyak menghindar karena memikirkan perasaannya. Arsen tidak pernah ingin menyakiti atau menyinggung perasaannya sejak dulu.

Tapi, Kafka tidak bisa meminta maaf untuk itu. Kafka terlalu egois memikirkan perasaannya sendiri karena jelas dia tidak mau menyerah untuk Arsen.

Kafka menyukainya.

Aku gak mau cuma dianggap adik sama Mas Arsen.

Kafka menyayanginya lebih dari sekedar titel sosok kakak yang selalu Arsen tunjukan padanya.

Arsen bukan Lintang, mereka jelas berbeda.

“Aku gak nangis kok.” Kafka menyunggingkan senyum kecil, kali ini dibalasnya tatapan Arsen yang begitu teduh menatapnya, “Aku udah gede, enggak cengeng, Mas.”

“Iya. Terus kenapa kamu pingin ngekost? karena udah gede juga?”

Karena mau move on dari kamu, Sensen!!!

Arsen mengerjap saat tiba-tiba telunjuknya Kafka terarah lurus di depan wajahnya. Bahkan anak itu memasang wajah kelewat serius.

“Biar Mas Arsen gak bisa liat aku tiap hari. Rasain nanti kangen terus.”

Namun, Kafka berhasil dibuat melongo saat Arsen justru tertawa pelan menanggapi ucapannya itu, padahal biasanya dia akan menjadikan kening atau hidung Kafka sebagai sasaran empuk telunjuknya seperti tadi.

Diturukannya tangan Kafka yang ada di depan wajahnya hingga Kafka bisa melihat keseluruhan raut Arsen yang masih melepaskan tawa lalu tersenyum padanya.

“Oke, kalau gitu jangan ngekost ya.”

“Sensennnnn!”

Arsen yang masih berada di dalam selimut langsung memutar bola matanya saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu, adalah Kafka. Tetangga sekaligus adik dari Lintang, temannya sejak ia pindah ke komplek perumahan ini sepuluh tahun lalu.

Dulu, Kafka hanyalah bocah sembilan tahun yang selalu malu-malu kalau bertemu dengannya, dia akan mengekori Lintang yang kerap kali main ke rumahnya sambil memakan lolipop dan membuat Lintang hanya bisa pasrah tidak bisa menolak karena takut adiknya itu mengadu pada Mamah mereka kalau tidak diajak main.

“Mas Arsennnnnn!!!!”

Pemuda dengan hoodie berwarna abu itu menggerutu kecil sambil menggedor pintu rumah berwarna coklat kayu yang tertutup rapat dan dikunci. Di tangannya ada tupperware berisi makanan yang masih mengepulkan asap tipis, panas terasa di telapak tangannya membuat dia hampir berkata kasar karena terlalu lama menunggu.

“Kemana sih, Mas Arsen ada di rumah kan?” gedornya sekali lagi, bodoamat kalau suaranya terdengar kemana-mana. Dia tidak perduli, agaknya yang penting si pemilik rumah ini keluar. Karena setahu Kafka, hanya orang tuanya Arsen yang kemarin pergi keluar kota sedangkan anak tunggal mereka tidak ikut.

“Sensennnnn udah bangun belum??!!!”

“Berisik, Kafka.” suara Arsen terdengar berat saat ia membuka pintu dan netranya bisa melihat cengiran lebar dari Kafka lengkap dengan lesung pipinya yang langsung menerobos masuk ke dalam rumah.

“Aku bawain sarapan.” katanya.

Sepuluh tahun mereka bertetangga membuat Kafka hapal di luar kepala setiap sudut rumah Arsen, akibat sejak kecil selalu ikut main dengan kakaknya ke sini. Pun sama halnya dengan Arsen yang juga sudah tidak asing dengan rumah mereka yang hanya terlahang dua nomor saja.

“Disuruh Mamah, katanya takut Mas Arsen gak punya makanan di rumah. Jadi aku anterin, tadinya mau sama Mas Lintang tapi si kebo itu masih tidur jam segini.”

Jam dinding di ruang keluarga Arsen memang masih menunjukan pukul tujuh pagi, wajar saja kalau Lintang masih tidur di hari libur seperti ini karena Arsen pun seharusnya seperti itu kalau tidak ada pengganggu yang datang mengganggunya dengan gedoran pintu super heboh.

“Oh oke, bilangin makasih sama Tante Hana.” Arsen berkata pelan sambil menyusul Kafka yang berjalan ke dapur, anak itu sudah menaruh tupperware yang tadi dibawanya di atas meja makan.

Pandangan Kafka menelisik sibuk naik turun menatap Arsen yang baru bangun tidur dengan kolor sepaha dan kaos gombrong berwarna hitamnya. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya yang sayu sesekali dikucek sebelum ia duduk di kursi lalu menaruh kepalanya di atas meja makan.

“Loh kok malah tidur lagi sih? Makan sarapan dulu nanti keburu dingin nasi gorengnya ini.”

Bawel banget, Kafka itu sama saja dengan kakaknya walaupun lebih heboh sedikit. Dulu, kalau Lintang tidak sibuk mengoceh dan mengajaknya main saat ia baru pertama pindah mungkin hubungan mereka bertiga tidak akan sedekat sekarang, karena jujur saja Arsen agak susah berteman dengan orang baru.

Tetapi, kedua bersaudara itu bisa dengan mudah membuatnya nyaman dan berpikir kalau pindah kesini tidak terlalu buruk. Arsen selalu bersyukur atas tingkah Lintang dulu.

“Sensen, makan dulu.”

Kafka tahu Arsen tidak terlalu menyukai panggilan itu darinya tapi kebiasaannya sejak kecil agak susah dihilangkan.

Dari dulu Kafka selalu memanggil Arsen dengan sebutan Sensen mengikuti kakaknya. Walaupun Lintang sering mengomelinya karena tidak sopan, tapi lidahnya terlalu terbiasa.

Lagi pula sekarang tidak sesering itu dan kalau sedang eling Kafka juga pasti memanggilnya dengan sopan karena biar bagaimana pun Arsen seumuran dengan Lintang yaitu empat tahun di atasnya.

“Mas Arsen habis lembur?”

Arsen hanya menjawab dengan deheman kecil, semalam ia memang pulang telat dan hari Sabtu ini adalah jadwalnya malas-malasan di rumah untuk menikmati hari libur. Kedua orang tuanya juga sedang ke luar kota untuk acara keluarga, sudah jelas Arsen tidak bisa ikut karena pekerjaannya.

Tangannya terlipat di atas meja guna menyangga kepala yang tiduran, matanya masih terpejam saat Arsen mendengar suara kursi tepat di sampingnya yang ditarik dan berdecit, ia tahu kalau Kafka juga memilih untuk duduk di sana.

Tidak ada suara berisik darinya membuat kening Arsen mengerut, Kafka itu anaknya tidak bisa anteng karena selalu ada saja yang diributkan, terlebih bila dia sedang berada di dekatnya.

Arsen perlahan membuka matanya dan ia mendapati Kafka yang juga sudah menaruh kepalanya di atas meja dengan mata yang terpokus kepadanya.

“Ngapain kamu?”

“Mas Arsen ganteng walaupun baru bangun tidur.”

Mulai.

Kafka tidak sempat menghindar saat telunjuk Arsen tiba-tiba sudah mengetuk keningnya, “Masih pagi, bocah.” ujarnya yang langsung mendapat dengusan dari bibir Kafka yang menggerutu kecil.

Rupanya sudah menjadi rahasia umum kalau Kafka itu katanya naksir mampus sama Arsen. Jangankan Lintang, Bian yang masih tinggal di satu komplek dengan mereka pun sudah hapal betul tentang kelakuan sahabatnya itu.

Namun, Arsen sendiri seperti tidak pernah menganggap serius ucapan Kafka hingga membuatnya kesal berkali-kali.

Pemuda sembilan belas tahun itu kini merengut dengan mata memincing, manatap Arsen yang menaikan satu alisnya.

“Nanti tupperware nya anterin ke rumah kata Mamah. Aku pulang aja, males sama Mas Arsen.”

Dia beranjak bangun dari kursi dan meninggalkan dapur membuat pandangan Arsen mengikuti punggungnya yang perlahan menghilang di balik tembok.

“Makasih Kafka makanannya.” serunya dan hanya dibalas ucapan tidak jelas yang samar terdengar.

Satu hela napas dalam keluar dari bibir Arsen yang mulai menegakkan kembali tubuhnya, suara pintu yang ditutup menandakan kalau Kafka sudah pergi dari rumahmya.

Ia menatap cukup lama tupperware di atas meja dengan satu senyum tipis yang perlahan tersungging di muka bantalnya.

Tangannya lalu dengan cepat mengambil sendok sebelum akhirnya Arsen memakan nasi goreng hangat yang dibawakan oleh Kafka.

Bila perlu diruntun ke belakang, ada semburan air yang berhasil keluar dari bibirnya saat Arsen pertama kali mendengar pernyataan cinta dari bocah tujuh belas tahun itu ketika mereka bertiga sedang main ps di rumahnya.

“Sensen.. kayaknya aku suka sama kamu.”

Lintang bahkan terbahak heboh sambil meledek adiknya hingga Kafka harus memukulnya dengan bantal berkali-kali agar dia diam.

Dua tahun lalu di sela wajah kagetnya, Arsen hanya mengangguk-ngangguk mengiyakan ucapan anak remaja itu sambil mengusak puncak kepalanya.

“Oh, iya makasih ya, Kafka. Sudah suka sama aku.”

Kemudian, Arsen tidak pernah merespon aneh-aneh ucapan Kafka karena takut menyakiti perasaannya.

Arsen kira, semuanya hanya akan berlangsung beberapa saat saja. Tetapi, hingga dua tahun berlalu Kafka masih sibuk merecokinya dengan banyak tingkah yang terkadang membuat Arsen pusing untuk meresponnya.


“Lintang?”

Arsen masuk ke kamar Lintang yang penuh dengan pernak pernik musik, Lintang itu sejak sekolah memang suka ngeband dan saat kuliah lumayan sering manggung di acara-acara kampus.

Berbeda dengan Arsen yang tidak terlalu suka lingkungan ramai, sikap mereka memang cukup bertolak belakang. Arsen yang pendiam dengan Lintang si extrovert yang temannya ada di mana-mana.

“Tumben lu keluar kandang.” adalah sapaan pertama kali Lintang saat Arsen duduk di atas tempat tidurnya.

Lintang tahu, Arsen sering sibuk belakangan ini dan dia hanya keluar rumah kalau pergi bekerja saja.

Lintang sendiri belum bekerja, dia sedang melanjutkan pendidikannya di kampus yang sama dengan Kafka. Mahasiswa S2 itu juga cukup sibuk dengan berbagai penelitian yang dikerjakannya, bahkan Arsen bisa melihat tumpukan paper di mejanya serta laptop yang menyala di depannya.

“Habis nganterin tupperware punya Tante Hana. Sabtu gini lo masih nugas?”

Lintang mengangguk lemah, dagunya menunjuk laptop dengan tidak minat, “Lagi pacaran gue sama jurnal-jurnal ini.” jawabnya asal membuat Arsen terkekeh kecil.

Jam di atas meja belajar Lintang menunjukan pukul dua siang, si pemilik kamar sudah sibuk lagi tenggelam dengan tugas-tugasnya saat Arsen justru mengambil gitar milik Lintang yang ada di sudut kamar.

Terimakasih pada Lintang yang sejak dulu selalu mengajarinya memainkan alat musik hingga Arsen bisa menggunakannya walaupun tidak sejago dirinya.

Kedekatan mereka sejak kecil memang membuat keduanya tidak canggung untuk berlama-lama menghabiskan waktu di rumah satu sama lain, kedua orang tua mereka pun sudah hapal dengan tingkah anak-anaknya.

“Oh iya. Tadi adek gue diapain sama lu, Sen?”

Arsen yang sedang duduk di teras balkon kamar Lintang yang menghadap ke taman belakang sambil memainkan pelan gitar Lintang itu menoleh, ia meringis kecil ditanya seperti itu.

“Biasa, kesel gitu.” jawan Arsen, Lintang tertawa dibuatnya, “Pantes pas dateng ke rumah misuh-misuh mulu tuh anak.” beritahunya.

“Sekarang di mana? kok gak ada di bawah tadi cuma ada ortu lo aja.”

“Ada kali di kamarnya atau kalau gak ada ya paling di tempat si Bian.”

Arsen melirik jendela kaca di sebelah kanannya, kamar Kafka memang bersebelahan dengan kamar Lintang. Ia menaruh gitar yang tadi dipangkunya lalu berdiri dan berjalan ke sana.

Jendela dengan gorden berwarna putih itu tertutup rapat saat Arsen mengetuk-ngetuk kacanya dari luar.

“Kafka?”

Hampir tiga menit tidak ada jawaban membuat Arsen berpikir mungkin memang Kafka tidak ada di kamar dan benar sedang di rumah Bian.

Namun, suara kunci yang coba dibuka dari dalam membuat Arsen mengurungkan niatnya untuk kembali ke tempat Lintang.

“Apa?”

Arsen tersenyum tipis mendengar nada ketus dari Kafka saat pemuda itu akhirnya membuka jendela dan membiarkan angin segar masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa coklat muda.

Kafka jelas tahu kalau Arsen daritadi ada di kamar kakaknya karena dia bisa mendengar obrolan mereka yang samar-samar apalagi suara gitar yang tadi dimainkan oleh Arsen dari arah balkon.

Kalau saja sedang tidak kesal, sudah pasti dia nimbrung di kamar kakaknya sejak tadi karena ada Arsen.

“Lagi apa, Kaf?”

“Mau tidur, terus berisik ada yang mainin gitar.”

“Oh gitu, maaf ya.”

Sepuluh tahun mengenalnya, Arsen memang sangat terbiasa melihat banyak sekali sikap Kafka yang sering ditampilkannya. Dari Kafka berusia sembilan tahun hingga kini sudah menjadi mahasiswa, Arsen seperti ikut membesarkan adik temannya itu.

Kafka menatap Arsen yang justru menyandarkan tubuhnya pada tembok di samping jendela.

Namanya Arsen Daru Prasetya, pemuda dua puluh tiga tahun yang sudah mengisi hatinya sejak dua tahun lalu atau mungkin lebih karena Kafka baru mengerti sejak dia berusia tujuh belas tahun kalau rasa kagumnya sejak dulu terhadap Arsen, tetangga yang selalu bermain dengan kakaknya adalah rasa suka yang penuh debar.

Kata Mas Lintang, dulu dia suka Arsen karena cinta monyet sesaat saja. Tetapi, nyatanya sampai sekarang Kafka masih tidak bisa melupakan Arsen sebagai cinta pertamanya.

“Mau keluar nggak? eh tapi kamu mau tidur ya?”

Kafka mengerjap pelan saat mendengar ucapan Arsen, dia terlihat menimbang sambil menggigit bibir bawahnya. Sebetulnya Kafka tidak ngantuk-ngantuk banget sih, kalau diberi tawaran seperti ini oleh Arsen mana mungkin dia akan menolak.

“Mau kemana?”

“Jalan ke cafe depan aja. Sekalian beli kopi tuh buat kakak kamu. Tapi, kalau nggak mau ya gapapa.”

Cafe depan itu maksudnya cafe milik kakaknya Bian yang letaknya di sebrang gerbang komplek. Langganan anak-anak komplek juga kalau nongkrong. Jaraknya lumayan dekat hanya cukup jalan kaki.

“Mau nggak?”

Walaupun Kafka sering kesal dan ngembek padanya, tetapi Arsen seperti selalu mempunyai cara untuk membuat anak itu memaafkannya dan membuatnya kembali bersikap menjadi anak manis.

“Buruan aku tunggu di kamar Lintang ya.”

Kafka mendengus saat dia belum menjawab tapi Arsen sudah pergi kembali ke kamar kakaknya.

“Aku aja belum bilang iya, Mas Arsen!” serunya dengan keras lalu buru-buru menutup kembali jendelanya dan berjalan keluar kamar sambil melebarkan senyum.

Pintu kamar Lintang yang terbuka membuat Kafka masuk begitu saja, dia bisa melihat kakaknya yang memangku dagu di atas meja sambil memasang senyum miring menyebalkan ketika melihatnya.

Kafka menghempaskan tubuhnya di atas kasur Lintang lalu memeluk bantal sambil menunggu Arsen yang memasukan gitar ke dalam tempatnya lagi.

“Mau kemana, adikku sayang?”

“Kepo banget deh.” jawab Kafka hingga Lintang tertawa, pemuda itu melirik Arsen yang kini berjalan ke tempat tidur, “Your Sensen tuh lama-lama pusing kalau kamu nya ngambek mulu tahu.” katanya.

Mendengar ucapan kakaknya, Kafka berhasil melemparkan bantal di tangannya ke arah Lintang yang tertawa semakin puas melihat wajahnya yang memerah, “Diem nggak, Mas Lintang!”

Takut Arsen dengar.

My Sensen, Kafka dan ocehannya itu memang kadang membuat Lintang mengomelinya, tapi di sisi lain dia juga menghargai perasaan adiknya yang seperti benar-benar menyukai Arsen.

Karena sesering apapun Lintang memberitahunya, percuma. Kafka akan seratus kali lebih ngeyel kalau dia berkata tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Arsen.

“Kita keluar dulu, nanti gue beliin kopi yang biasa.”

Arsen menarik tangan Kafka yang masih duduk di atas kasur, ia sudah terlalu paham kalau tidak segara dipisah, kedua kakak beradik itu akan ribut seperti anak kucing dan anjing.

“Low sugar ya, Sensen!”

“Kasih extra aja, Mas Arsen!”

Kepala Arsen menggeleng saat keduanya sibuk bersahut-sahutan, dari dulu ia memang selalu terjebak diantara keduanya.

Dan Arsen tidak akan menyadarinya kalau diam-diam di belakangnya Kafka mengulas senyum kelewat senang saat menatap tangan Arsen yang masih memegang pergelangan tangannya bahkan ketika mereka sudah menuruni anak tangga.

Sejak kecil, mungkin perlakuan Arsen memang sudah biasa seperti ini karena lambat laun ia selalu bersikap sebagaimana Lintang memperlakukan dan menjaga Kafka seperti seorang kakak.

Tetapi, ketika mereka beranjak dewasa terutama saat Kafka sendiri mulai menyadari perasaannya, setiap apa yang dilakukan Arsen selalu meninggalkan kesan yang berbeda baginya.

Senyum Kafka harus luntur saat Arsen melepaskan tangannya ketika mereka bertemu dengan Mamah nya yang ada di ruang tv.

“Tante Hana, aku izin bawa Kafka ke cafe depan ya. Mau jajan.”

“Boleh, daripada dia ngerem terus di kamar tuh atau ribut sama Mas nya.”

Ada tawa renyah yang terdengar dari Arsen ketika ia akan membalas ucapan Mamah nya lagi.

Sedangkan Kafka memilih berjalan lebih dulu ke teras rumah saat Arsen kemudian baru menyusulnya dari belakang.

“Kenapa sih buru-buru banget? orang aku harus izin dulu.”

“Lama.” jawab Kafka singkat.

Tangan Arsen tidak bisa ditahan saat lima detik kemudian sudah terangkat dan mendarat di puncak kepala Kafka, “Dasar gak sabaran.”

Arsen dan segala sikap baiknya hanya mampu membuat Kafka menghela napas panjang. Dia menatap Arsen yang mengulas senyum sambil membuka gerbang rumahnya,

“Ayo, nanti sekalian kita beli cake kesukaan kamu, semoga masih ada ya.”

Coba, jika begini terus mana bisa Kafka menghilangkan perasaannya sama Arsen, yang ada malah semakin suka!

Tidak ada yang tahu kalau Kafka dulu diam-diam pernah menangis saat Arsen punya pacar, kejadiannya sudah lama saat ia masih kelas sepuluh dan Arsen sudah kuliah. Ternyata satu tahun sebelum pernyataan cintanya pada Arsen, Kafka bahkan sudah lebih dulu merasakan patah hati.

Sejak mereka putus—kata Lintang. Kafka tidak pernah mendengar kalau Arsen punya pacar lagi hingga membuatnya sedikit berharap.

Senyum Kafka tampak cerah saat mendekat pada Arsen, mereka berjalan bersisian dengan tenang. Di lingkungan komplek mereka cukup banyak pohon rindang besar sehingga tidak terlalu terik walaupun harus jalan di siang hari seperti ini.

“Kalau misal udah habis nanti aku tanya Bian, kapan adanya lagi. Hari ini dia kerja di cafe.”

Arsen menoleh padanya lalu mengangguk kecil, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana sambil berjalan, “Iya kalau adanya besok, bilang aja nanti kita kesana lagi.”

“Emang kamu besok gak kemana-mana, Mas?”

“Enggak sih, besok jemput Ayah sama Ibu ke bandara sore. Dari pagi aku ada di rumah.”

Kafka hanya membulatkan mulutnya, dia tahu Arsen memang sering menghabiskan waktu di rumah daripada pergi keluar di hari liburnya, makanya sejak dulu dia dan Lintang lebih sering main di rumahnya.

Dengan Arsen, Kafka bisa merasa sangat nyaman. Mungkin karena dia juga terbiasa dengannya sejak kecil, perilaku Arsen sedikit berbeda dengan Lintang yang selalu menjaganya sambil bersikap jahil.

Arsen selalu menjaganya tanpa banyak bicara atau tanpa perlu membuatnya merengek dulu seperti pada Lintang.

Sebenernya kamu pernah suka sama aku juga nggak sih?

Kafka selalu menebak-nebak pikirannya itu walaupun dia tidak pernah tahu jawabannya. Karena segala sikap baik Arsen padanya justru menjadi bumerang di pikirannya sendiri

“Hati-hati. Sibuk ngelamun apa sih, Kaf.”

Kafka meringis saat tangan Arsen sudah menahan lengannya yang baru saja tersandung, “Jalan yang bener.” omelnya.

“Sibuk mikirin kamu.”

Walaupun pelan tapi Arsen bisa mendengar gumaman Kafka tersebut karena mereka berjalan cukup dekat dengan tangan Arsen yang masih memegang lengannya.

“Ngapain dipikirin saat orangnya ada tepat di samping kamu.”

Untuk Ananda,

Ada sebuah garis waktu lain yang tercipta bertentangan dengan yang seharusnya.

Maka, biarkanlah hidup dalam setiap ia yang mengharap takdir tidak selalu bekerja dengan kejam.

Adalah bahagia yang didamba dalam hela napas penuh sesak untuk diberinya setitik ruang bagi yang telah berdamai dengan duka.


“Papa...”

Ananda mengangkat wajahnya yang sedang menatap layar ponsel saat sebuah suara terdengar bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka dari luar.

Netra coklat gelapnya bisa melihat sosok anak perempuan yang akan genap berusia lima tahun pada bulan depan itu dengan piyama gambar bebek berwarna kuning. Rambut panjangnya sedikit acak-acakan dan tangannya yang memeluk boneka kelinci sibuk mengucek mata.

Kaki kecilnya perlahan melangkah memasuki kamar lalu naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Nanda yang membuka tangannya dengan lebar, “Kenapa sayang? kok Alin kebangun?” tanyanya penasaran, tangannya menyisir rambut sang anak yang kini sudah ndusel di pelukannya.

“Mau bobo sama papa..” cicitnya pelan membuat sebuah senyum kecil terlihat di wajah Nanda, sepertinya dia tahu apa yang terjadi hingga Alin sampai ke sini.

“Alin mimpi buruk ya? biasanya berani bobo sendiri.”

Putri kecil Ananda itu menganggukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan sang papa. Tangan mungilnya meremas baju Ananda dan menjawab dengan suara lirih, bibirnya sedikit mencebik ke bawah.

“Alin takut.. ada monster, papa.”

Nanda membenarkan duduknya saat Alin yang berada di pangkuannya itu semakin mengerut, anaknya habis nonton apasih bisa-bisanya sampai mimpi monster segala.

“Nggak apa-apa nanti monsternya biar dilawan sama Ayah Ares ya.” dia menumpu dagunya di atas kepala Alin, menenangkan putrinya dengan sebuah pelukan penuh sayang, “Sekarang, Alin jangan takut karena sudah ada papa. Bobo lagi yuk.”

Suara pintu dari kamar mandi membuat Nanda menoleh dan pandangannya bersitatap dengan Ares yang memasang wajah bingung saat melihat putri mereka berada di pelukan papanya. Bukannya tadi sudah tidur di kamarnya ya? bahkan Ares sendiri yang sibuk membacakan buku untuknya hingga tidur.

Alin memang sudah sejak beberapa bulan ini dibiasakan untuk tidur sendiri, walaupun memang masih sering untuknya ingin tidur bersama mereka di sini. Putrinya itu sangat antusias saat dulu Ares mengecat kamar dengan warna pink dan mengisinya dengan berbagai mainan yang sudah dibelikan oleh Ananda.

“Mimpi buruk.” beritahu Nanda dengan pelan pada Ares yang mengangguk paham. Ia naik ke atas tempat tidur dan mengusap puncak kepala Alin yang wajahnya sudah sembunyi di ceruk leher Nanda sambil melingkarkan tangan di bahunya.

“Alin sayang, malam ini kita bobo bertiga ya, nak.”

Tahu ayahnya ada di sini juga, Alin langsung mengangkat wajah untuk menatap Ares, mata bulatnya yang jernih itu mirip sekali dengan Ananda yang selalu menatapnya penuh binar. Sorot mata paling hangat yang selalu menyapa Ares di setiap harinya sejak ia membuka mata.

“Mau dipeluk ayah.” rengeknya kemudian membuat Ares melepaskan tawa dengan suara dalam. Memang manjanya sama seperti Ananda dan Ares tidak bisa menampik hal tersebut.

“Sini, anak cantik mimpi apa sih sampai minta peluk begini, hmm?”

Ares melebarkan senyum saat Alin kini sudah pindah ke dalam dekapannya, nemplok lagi. Alin memang suka sekali dipeluk, anaknya clingy dan lagi-lagi hal tersebut sama seperti Ananda, Ares sudah kenyang saat Samudra selalu menyebut kalau ia hanya kebagian hikmahnya saja sebagai ayahnya Alin.

“Ada monster katanya, yah. Nanti tolong di usir ya, suruh jangan gangguin Alin tidur lagi.”

“Oke, nanti Ayah marahin monsternya.”

Tubuh Ares bersandar pada kepala ranjang dan mengusap-ngusap punggung Alin yang terlihat nyaman memeluknya sambil memegang boneka, sesekali Ares akan menepuk-nepuknya sambil bergumam penuh hal menenangkan.

Tidak ada yang bersuara selain Ares yang mengisi hening di sebuah kamar bernuansa putih tersebut. Nanda juga sudah beringsut untuk mendekat, ikut-ikutan menyandarkan kepalanya kepada lengan Ares yang merespon dengan tarikan di kedua sudut bibirnya dan kecupan ringan di pelipisnya.

Dengan Ares, mereka berdua akan selalu diberi tenang juga aman.

“Alin mau minum susu nggak?” Ares bertanya sambil menciumi puncak kepala Alin, rambutnya wangi strawberry karena tadi sore baru saja keramas.

Entah bagaimana Ananda mengurusnya tapi rambut panjang Alin selalu terawat dengan bagus, terlebih Alin sendiri yang selalu tidak mau kalau ditanya apakah ingin dipotong atau tidak. Ananda juga menikmatinya saat hampir setiap hari dia harus mengepang rambut panjang Alin dan memasang berbagai jepitan rambut lucu warna-warni yang menggemaskan.

“Alin mau susu coklat!” jawabnya tiba-tiba bersemangat, padahal tadi pas masuk kamar terlihat mengantuk sekali karena terbangun di jam sepuluh malam saat jam delapan tadi ia sudah tidur.

Kenapa sekarang batrainya malah seperti terisi penuh setelah mendapatkan pelukan.

Nanda menggeleng pelan melihat tingkah sang anak, tangannya dengan cepat mampir di puncak kepala Alin, “Mau ayah yang bikin atau sama papa?” tanyanya.

“Ayah.”

Alin menatap kedua iris hitam ayahnya lalu berkedip lucu, bulu matanya yang panjang terlihat cantik seperti boneka membuat Ares menahan gemas berkali-kali, “Tapi Alin ikut.” lanjut Alin sedikit mejaruk.

Oh Tuhan, Ananda versi mini ini memang suka sekali menempel dengan ayahnya yang terkadang sibuk pulang malam, hari ini memang Ares telat pulang dan tadi ia sudah dispam oleh suara Alin yang memenuhi chat dari ponsel Ananda.

Sekarang Ares mempunyai dua orang yang selalu menunggunya, alasan untuk ia selalu memilih rumah lebih dari apa pun.

Rumah yang begitu hangat, rumah yang penuh kasih sayang, rumah yang memberinya bahagia setiap waktu.

Rumah tempatnya untuk pulang.

Diciuminya dengan gemas pipi gembul Alin hingga dia tertawa dan merengek, apalagi saat Ananda melakukan hal yang sama.

Gemar sekali rupanya mengerjai anak mereka sendiri hingga kemudian berbagi gelak tawa yang menghantarkan hangat untuk melingkupi apa yang disebut keluarga.

Sebuah keluarga kecil Ares yang paling berarti di dunia.

“Besok Ayah libur, waktunya kita family time. Alin mau nya pergi ke zoo atau ke sea world? terus nanti kalau kemalaman pulangnya kita nginap di rumah oma saja ya.”

Ditatapnya sang anak yang duduk di atas pangkuannya, mereka memang punya waktu khusus untuk menghabiskan weekend bersama.

Hal yang tidak pernah berubah sejak dulu saat masih berpacaran hingga sekarang.

Quality time untuk mengganti hari-hari sibuk di setiap minggunya. Terlebih Ares yang terkadang pulang telat dan hanya bisa menghabiskan waktunya sebentar sebelum Alin tidur.

“Sea wold!” lagi-lagi suara Alin terdengar bersemangat, ia menjawab tanpa pikir panjang dengan senyum yang sangat cerah memperlihatkan lesung pipi kecil di kedua sudut bibirnya, sudah jelas kan didapat dari siapa.

Memang betul sepertinya kata Samudra, Ares hanya kebagian hikmahnya saja di sini.

“Alin mau lihat mermaid.”

Kali ini tangan Ananda yang menangkup kedua pipi gembulnya sebelum menguskkan ujung hidungnya pada pipi sang anak. Gemas.

“Mermaid terus, kalau ke zoo nanti ada gajah loh.”

“Alin maunya ke sea world, papa.”

Ares memperhatikan dalam diam bagaimana Ananda tertawa melihat jawaban anaknya yang kekeh saat dia masih berusahan mencoba untuk menggoyahkan keinginannya itu.

Lucu bila diingat, dulu Ares juga tidak akan menyangka kalau Ananda akan begitu senang saat mereka pergi kesana untuk pertama kalinya dan Alin malah ikut-ikutan menyukai tempat tersebut.

Lagi-lagi Rajendra Ares itu menarik kedua sudut bibirnya seakan tanpa lelah. Melihat Ananda yang tertawa bahagia adalah hal paling disukainya. Juga dengan tawa menggemaskan dari Alin membuat hati Ares selalu menghangat.

Ares tidak akan ragu untuk menukar apa pun asal ada Ananda juga Alin dalam hidupnya.

“Siap, princess. Besok kita ke sea wold sekalian ayah sama papa pacaran.”

Perkataan Ares itu membuat Nanda menoleh dengan cepat lalu menepuk pahanya, ada senyum malu-malu yang coba ditahannya susah payah saat Ares bicara ceplas ceplos di depan anak mereka, “Kak Ares inget umur, sudah punya anak tuh.” katanya yang dibalas tawa kecil.

Ananda dari dulu masih saja mudah tersipu, kayak baru pacaran.

“Ananda sayang, justru karena sekarang kita sudah punya Alin. Harus makin sering pacarannya karena ada yang ngikutin terus, ada yang merhatiin kita. Jadi Alin tahu gimana ayahnya memperlakukan papanya.”

“Gimana emang?”

Ares mendekat, mengecup kening Ananda cukup lama lalu beralih ke pipi kanannya sambil berbisik pelan.

“I love you, Ananda.”

“I love you, papa.” nah kan, ini adalah suara Alin yang ikut-ikutan hingga Ananda tidak bisa manahan kekehannya, benar-benar ditiru apa pun yang dilakukan oleh ayahnya.

Sikap manis Ares yang tidak pernah berubah dari dulu memang menurun pada Alin yang selalu membuatnya tersentuh dengan segala tingkahnya.

Kak Ares yang begitu perhatian, Kak Ares yang pengertian, Kak Ares yang selalu menomor satukan Ananda membuat dia jatuh cinta setiap harinya meskipun hubungan mereka sudah berjalan hampir delapan tahun.

Ananda bahkan masih ingat jelas saat Ares berkata serius akan melamarnya dan membuatnya memasang wajah tidak percaya.

Saat itu dia yang baru saja santai setelah sibuk seharian di hari pernikahan Alvin tiba-tiba digandeng oleh Ares ke halaman belakang villa tempat dilakukannya resepsi.

Dinginnya udara Lembang serta pemandangan hijau hutan pinus yang menyejukkan mata karena kakaknya memilih konsep outdoor menjadi suasanya yang masih diingat jelas oleh Nanda.

Sialnya di saat seperti itu udara Lembang seperti tidak ada artinya karena wajah Nanda justru terasa panas mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibir Ares.

Pemuda dua puluh tujuh tahun itu dengan masih mengenakan kemeja batik hitamnya menggenggam tangan Nanda sambil berkata serius.

“Ananda, nanti setelah semuanya selesai dan keluarga kamu sudah tidak sibuk lagi, izinin Kak Ares buat menemui mereka secara pribadi ya? kakak mau serius juga sama kamu tentang hubungan kita kedepannya.”

Dua tahun hubungan mereka sudah jauh dari kata cukup bagi Ares untuk memantapkan niatnya sejak lama, karena kalau harus dengan selain Ananda, ia tidak akan bisa.

Ananda adalah belahan jiwanya.

Ananda adalah cintanya yang begitu besar.

Ares mengulas senyum lembut saat melihat raut kaget di wajah Nanda, tiba-tiba sekali di siang bolong seperti ini dia akan dilamar oleh Ares?

Ananda bahkan sempat berpikir kalau dia sedang mimpi,